Madu Hutan Bangka Belitung Digemari Pasar Luar Daerah

Madu Hutan Bangka Belitung Digemari Pasar Luar Daerah

Madu Hutan Bangka: Keunikan dan Potensi Pasar yang Menjanjikan

Madu hutan liar asal Bangka Belitung memiliki keunggulan tersendiri yang membuatnya diminati baik oleh masyarakat lokal maupun pasar luar daerah. Produk ini tidak hanya menjadi pilihan konsumsi sehari-hari, tetapi juga semakin menarik perhatian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkannya di berbagai kota di Indonesia bahkan mencoba menembus pasar ekspor.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DKUKM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Arie Primajaya, menjelaskan bahwa madu hutan memiliki ciri khas yang tidak dimiliki wilayah lain. Salah satu produk unggulan adalah madu pelawan, yang memiliki rasa dan aroma khas berasal dari nektar bunga pohon pelawan.

"Madu pelawan itu pasti bisa jadi produk unggulan daerah. Karena itu khas, tidak semua daerah punya," ujarnya.

Menurut Arie, nilai ekonomi madu pelawan tergolong tinggi karena bergantung pada musim berbunga yang tidak terjadi setiap tahun. Kondisi ini menjadikan pasokan terbatas, sementara permintaan terus meningkat. Meski begitu, upaya UMKM untuk menembus pasar luar negeri masih menghadapi kendala, terutama terkait standar uji laboratorium dan kandungan nutrisi.

"Ada yang hampir ekspor, tapi terkendala hasil uji laboratorium yang belum memenuhi syarat," kata Arie.

Ia menambahkan bahwa persaingan produk madu di pasar global cukup ketat. "Kemarin ada yang hampir masuk pasar luar, tapi kalah di uji nutrisi dengan produk dari Malaysia," tambahnya.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap optimistis terhadap peluang pasar madu. DKUKM terus memberikan dukungan melalui promosi, pendampingan, hingga pemasaran digital dan pameran. Selain itu, jumlah UMKM kecil di Bangka Belitung juga meningkat sekitar 26 persen, dari lebih dari empat ribu menjadi enam ribu pelaku usaha. Peningkatan ini dinilai sebagai indikasi naik kelasnya pelaku usaha dari kategori mikro ke kecil.

"Artinya usaha mereka berkembang dan pendapatannya meningkat," ujar Arie.

Pemerintah daerah, kata Arie, akan terus menjalankan program pro-UMKM, termasuk akses pembiayaan melalui kredit usaha rakyat (KUR), serta pendampingan langsung di lapangan. Ia berharap sektor madu hutan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.

"Potensinya besar sekali. Apalagi madu pelawan itu khas dan bernilai tinggi," katanya.

Nilai Ekonomi Tinggi dan Permintaan yang Tinggi

Adhy Al Banjari (36), pencari madu asal Petaling, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, mengungkapkan bahwa madu hutan memiliki nilai ekonomi tinggi. Untuk madu biasa, harga jual berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per botol. Sedangkan madu pelawan yang lebih langka bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta per botol.

"Kalau madu pelawan itu sekitar Rp500 ribu per botol. Ada juga yang sampai Rp1 juta tergantung kualitas dan musimnya," ujarnya.

Menariknya, madu yang dipasarkan Ady hampir selalu habis terjual dalam waktu singkat. "Kalau kami posting biasanya langsung habis. Banyak yang dari kantor-kantor ambil," ujarnya.

Ady juga menyoroti masih banyak masyarakat yang salah memahami ciri madu asli. Menurutnya, madu murni tidak selalu kental seperti anggapan umum. "Madu murni itu tidak selalu kental. Tergantung kandungan air dan jenis bunganya," jelasnya.

"Tapi kalau madu asli, biasanya semut pasti suka," katanya sambil tertawa.

Ia berharap masyarakat dapat lebih menghargai proses panjang di balik sebotol madu hutan yang dijual para pencari madu. "Orang kadang gampang bilang madu ini palsu. Padahal mereka tidak tahu perjuangan kami di hutan," ujarnya.

Meski harus menghadapi panas, sengatan lebah, hingga risiko jatuh dari pohon tinggi, Ady mengaku tetap menikmati pekerjaannya sebagai pencari madu. "Ini kerja susah senang. Kelihatannya mudah, tapi sebenarnya susah," katanya.

"Tapi ada rasa nikmatnya sendiri kalau sudah dapat madu dan pulang bawa hasil," sambungnya.

Baginya, rasa puas setelah berhasil membawa pulang madu dari tengah hutan menjadi alasan utama dirinya tetap bertahan hingga sekarang. "Risikonya besar, tapi rasa senangnya juga besar. Itu yang bikin kami tetap jalan sampai sekarang," tutupnya.

Adhy Al Banjari menyebut setiap daerah memiliki karakter madu yang berbeda. "Madu Mendo beda dengan Bangka Selatan. Setiap daerah ada ciri khasnya masing-masing," ujarnya.


أحدث أقدم