Menenun Ketekunan dalam Satu Benang, Kisah Titi Hapsah Menghidupkan Jiwa UMKM Titicollection

Menenun Ketekunan dalam Satu Benang, Kisah Titi Hapsah Menghidupkan Jiwa UMKM Titicollection

Kehidupan di Balik Rajutan Benang

Di sebuah sudut di Jalan S. Saddang III No. 22 Makassar, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sana, jemari Titi Hapsah bergerak lincah, menari di antara helaian benang yang saling bertaut. Bagi banyak orang, itu hanyalah gulungan benang biasa, namun di tangan perempuan yang akrab disapa Titi ini, gulungan itu adalah kanvas kehidupan.

Perjalanannya bersama UMKM miliknya, Titicollection bukan sekadar tentang memproduksi tas atau sepatu. Ini adalah kisah tentang bagaimana sehelai benang bisa menjelma menjadi karya yang memiliki "nyawa". Titi jatuh cinta pada rajutan karena sifatnya yang tak terbatas. "Dari sehelai benang, kita bisa membuat apa saja; tas, sepatu, baju, hingga topi," ujarnya saat ditemui, Minggu (10/5).

Namun, keajaiban itu menuntut harga yang tinggi: kesabaran. Proses kreasi Titi bukanlah jalur lurus yang instan. Tak jarang, sebuah tas membutuhkan waktu hingga satu minggu untuk rampung. Titi adalah seorang perfeksionis, ia tak segan membongkar kembali rajutannya hanya untuk mencari model yang pas. Ia kerap mencocokkan harmoni warna berkali-kali sebelum mulai merajut, memastikan setiap produk yang lahir memiliki standar premium yang kokoh dan kuat.

Menepis Kata 'Mahal' dengan Kualitas

Namun, merajut mimpi di dunia usaha tak selalu semulus tekstur benang sutra. Tantangan terbesar Titi justru datang ketika karyanya berhadapan dengan apresiasi pasar. Ada saat-saat pahit ketika calon pembeli tertarik, namun seketika mundur begitu mendengar harganya. "Aduh, mahalnya," adalah kalimat yang sering menjadi "kerikil" dalam perjalanannya.

Meski sempat menyakitkan, Titi memilih menjawab keraguan itu dengan pembuktian. Ia sering menggabungkan beberapa helai benang sekaligus agar tas buatannya lebih kuat dibanding tas pabrikan. Ia menjaga betul detail kecil, mulai dari furing hingga kancing, demi menjaga martabat jenama Titicollection.

Naik Kelas Lewat Sistem 'Scoring' Rumah BUMN

Titik balik profesionalisme Titi bermula ketika ia bergabung dengan ekosistem Rumah BUMN (RB) BRI Makassar. Di sini, Titi tidak hanya mendapatkan teman sesama pelaku usaha, tetapi juga peta jalan yang jelas untuk berkembang. Pihak Rumah BUMN BRI Makassar menerapkan standar yang terukur untuk membantu UMKM seperti Titicollection.

Ayu Anisela, dari Rumah BUMN BRI Makassar, menjelaskan bahwa mereka menerapkan sistem scoring usaha untuk membantu pelaku UMKM benar-benar "naik kelas". "Dengan mengisi asesmen, pelaku ini bisa mengetahui sejauh mana berkembangnya usaha mereka dan tahu kelas produknya ada di mana," ujar Ayu Anisela. Melalui sistem ini, pelatihan diberikan berdasarkan segmentasi yang tepat, mulai dari kategori start-up, middle, hingga UMKM mandiri yang siap ekspor.

Bagi Titi, proses asesmen ini membantunya memahami posisi Titicollection dalam persaingan pasar yang lebih luas.

Digitalisasi: 'Hebatnya QRIS' di Meja Pameran

Adaptasi Titi terhadap teknologi juga menjadi kunci keberlanjutan usahanya. Penggunaan Rekening BRI membantunya dengan tegas memisahkan mana uang untuk modal benang dan mana uang untuk keperluan rumah tangga. Namun, pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat menggunakan QRIS BRI. Di pameran UMKM yang sibuk, QRIS adalah "asisten" yang paling bisa diandalkan.

"Di sinilah hebatnya QRIS. Misalkan saya ada keperluan lain, teman bisa menjaga stan saya karena pembayaran langsung masuk melalui QRIS. Tidak perlu lagi repot cari uang kembalian," tuturnya. Kehadiran aplikasi BRImo pun membuatnya bisa memantau setiap rupiah hasil jerih payahnya dengan rasa aman.

Mimpi yang Melampaui Batas Kota

Kini, Titicollection telah menjadi salah satu jenama rajut yang diperhitungkan di Makassar. Namun, impian Titi tidak berhenti di Jalan S. Saddang. Dengan sistem pendampingan terukur dari Rumah BUMN, ia bermimpi suatu hari nanti tas rajut buatannya bisa menembus pasar ekspor dan berada di tangan wanita luar negeri.

Sebagai penutup, Titi menitipkan pesan bagi perempuan yang ingin memulai bisnis kerajinan tangan, "Seorang wanita harus mempunyai keterampilan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya." ujarnya. Lewat Titicollection, Titi Hapsah membuktikan bahwa dari kesabaran merajut benang, seorang perempuan bisa menenun masa depan yang mandiri.

أحدث أقدم