Menjaga Lingkungan dari Etalase Toko, Kisah Idris Ketua RW 004 Untia

Menjaga Lingkungan dari Etalase Toko, Kisah Idris Ketua RW 004 Untia

Kehidupan Harian di Toko Kelontong yang Jadi Pusat Komunikasi Warga

Setiap pagi, toko kelontong milik Idris di Jalan Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, selalu ramai. Warga datang bergantian untuk membeli kebutuhan harian mereka. Namun, bagi Idris, toko ini tidak hanya sekadar tempat berdagang. Di balik etalase dan tumpukan barang dagangan, ia juga menjalankan tugas sebagai Ketua RW 004.

Sambil melayani pembeli, Idris sering menerima berbagai cerita, keluhan, hingga aspirasi warga. Semua berlangsung secara sederhana tanpa adanya sekat formal. “Kalau ada warga datang belanja, biasanya sekalian juga menyampaikan persoalan atau keluhan ke kami,” ujar Idris, Senin (11/5).

Pria kelahiran Ujung Pandang, 14 Juni 1977, mengaku tidak kesulitan membagi waktu antara berdagang dan mengurus lingkungan. Menurutnya, keberadaan toko justru memudahkan komunikasi dengan masyarakat karena hampir setiap hari warga datang dan berkumpul di sana.

Lulusan SMA Negeri 15 Makassar itu sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan perusahaan sebelum akhirnya membuka usaha kelontong sekitar 13 tahun lalu. Kini, aktivitas dagangnya dibantu oleh keluarga dan seorang karyawan.

Baru lima bulan menjabat sebagai Ketua RW 004, Idris mulai aktif membangun kebersamaan warga. Wilayah yang dipimpinnya terdiri dari dua RT dengan total 62 kepala keluarga. Berbagai kegiatan lingkungan rutin dilakukan bersama warga dan pihak kelurahan. Salah satunya adalah program Jumat Bersih yang digelar bergilir di setiap wilayah.

Pada malam hari, warga juga rutin berkumpul di posko lingkungan. Saat ini, perhatian utama Idris tertuju pada pengelolaan sampah melalui program bank sampah yang baru diluncurkan di RW 004. Program itu langsung mendapat sambutan positif dari warga. Pada kegiatan perdana yang digelar Sabtu (9/5/2026), sekitar 200 kilogram sampah berhasil dikumpulkan.

Menariknya, pusat kegiatan bank sampah berada di sekitar toko kelontong milik Idris dan dikelola bersama pengurus RT serta warga. “Karena wilayahnya tidak terlalu luas, jadi kegiatan RW banyak dipusatkan di sini,” katanya.

Menurut Idris, edukasi soal pemilahan sampah terus dilakukan kepada masyarakat. Ia ingin warga mulai terbiasa memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu dari rumah masing-masing. “Kita kasih edukasi ke masyarakat pentingnya memilah sampah karena ke depan pengelolaan sampah akan semakin diperketat,” ujarnya.

Meski masih ada warga yang membuang sampah sembarangan, Idris memilih melakukan pendekatan persuasif agar kesadaran masyarakat tumbuh perlahan. Di tengah kesibukannya berdagang dan mengurus lingkungan, Idris bersyukur wilayah Untia masih tergolong aman dan kondusif. Menurutnya, kawasan pesisir membuat lingkungan mereka relatif jauh dari hiruk-pikuk kota.

“Insya Allah di sini paling aman kalau di Kota Makassar,” katanya. Ke depan, Idris berharap warga semakin aktif menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan memilah sampah sejak dari rumah. Ia juga berharap pemerintah kota dapat membantu fasilitas pendukung bank sampah, seperti ember atau wadah pemisahan sampah bagi warga.


أحدث أقدم