
Kehidupan Seorang Ibu Tua yang Berhasil Mewujudkan Impian Haji
Painah, seorang warga dari Dusun Ngedok, Kelurahan Wonosobo Barat, kini tengah menantikan keberangkatan ke Tanah Suci. Di usia 65 tahun, ia tak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya memetik daun pisang setiap hari akan membawanya sampai ke sana.
Kehidupan Harian yang Sederhana
Setiap hari, Painah menjalani rutinitas seperti biasa. Ia bekerja sebagai buruh pemetik daun pisang klutuk. Daun tersebut kemudian dijual ke pasar pagi, warung-warung, hingga pelanggan di kawasan Sumberan dan Kampung Puntuk. Menurutnya, daun pisang jenis klutuk adalah yang paling diminati oleh pembeli.
Rutinitasnya dimulai saat sebagian besar orang masih terlelap tidur. Sekitar pukul 01.30 WIB, ia sudah bersiap berangkat mengambil daun pisang dari kebun sebelum dibawa ke pasar pagi. Selama bertahun-tahun, Painah mengambil daun dari kebun milik orang lain. Bahkan sebelumnya ia sempat membeli daun untuk dijual kembali demi mendapatkan keuntungan kecil dari hasil berdagang.
Namun dalam empat tahun terakhir, keadaan mulai berubah. Setelah bertahun-tahun bekerja, Painah akhirnya memiliki lahan sendiri untuk ditanami pohon pisang. Sekarang, ia bisa mengambil daun dari lahan sendiri.
Proses Penjualan dan Pengelolaan
Daun-daun yang sudah dipetik kemudian dibersihkan dan dirapikan terlebih dahulu sebelum ditimbang. Biasanya pekerjaan itu dilakukan malam atau dini hari agar pagi harinya daun siap dibawa ke pasar. Painah berangkat dari rumah jam setengah dua pagi, lalu menjual di pasar pagi sampai subuh. Siang hari, ia antar ke pelanggan.
Selain berjualan di pasar pagi, Painah juga mengantar langsung pesanan pelanggan ke sejumlah tempat. Ia biasa membawa daun ke kawasan Sumberan, Kampung Puntuk, hingga warung-warung kecil langganannya. Jumlah pesanan pun tidak selalu banyak. Kadang hanya dua kilogram, tiga kilogram, atau lima kilogram untuk setiap pelanggan.
Harga jual daun pisang juga berbeda tergantung kualitasnya. Untuk daun kualitas bagus dijual Rp5 ribu per kilogram. Sedangkan kualitas sedang dijual Rp3 ribu dan kualitas rendah sekitar Rp2 ribu per kilogram. Meski harga kebutuhan sehari-hari terus naik, Painah mengaku tidak pernah menaikkan harga jual daun secara berlebihan. Baginya, menjaga hubungan baik dengan pelanggan jauh lebih penting dibanding mengambil keuntungan besar.
Tabungan untuk Berangkat Haji
Penghasilan dari berjualan daun sebenarnya tidak menentu. Dalam sehari, ia kadang hanya membawa pulang Rp10 ribu hingga Rp30 ribu. Jika sedang ramai pesanan kampung, pendapatannya bisa sedikit lebih banyak.
Meski demikian, dari penghasilan kecil itulah Painah mulai menabung untuk bisa berangkat haji. Ia mendaftar haji sekitar tahun 2012 bersama sang suami. Namun di tengah proses menunggu keberangkatan, suaminya dinyatakan tidak lolos pemeriksaan kesehatan sehingga porsi keberangkatan kemudian digantikan oleh anaknya.
Masa tunggunya 14 tahun, Alhamdulillah tahun ini bisa berangkat. Painah mengatakan tabungan hajinya dikumpulkan sendiri secara perlahan dari hasil jualan daun pisang. Tidak ada nominal khusus yang harus disisihkan setiap hari. Kadang ia hanya bisa menyimpan Rp15 ribu. Di waktu lain bisa Rp50 ribu hingga Rp100 ribu jika dagangan sedang ramai.
Perjalanan Panjang Menuju Tanah Suci
Uang hasil jualan itu tidak sepenuhnya bisa ditabung. Sebab, Painah tetap harus memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti membayar listrik, kebutuhan rumah tangga, hingga menghadiri kegiatan sosial di kampung. Ya karena di kampung kan kadang ada orang meninggal, tilik (nengokin) orang sakit. Nah sisanya baru ditabung. Ya sedikit-sedikit lah.
Jika tabungan di rumah sudah mencapai sekitar Rp10 juta, Painah baru menyetorkannya ke bank. Cara itu dilakukan berulang kali selama bertahun-tahun hingga akhirnya namanya masuk daftar keberangkatan haji tahun ini.
Di balik penantian panjang tersebut, Painah mengaku sempat dihantui rasa khawatir. Usianya yang terus bertambah membuatnya takut tidak sempat berangkat ke Tanah Suci. Sempat mikir nemuin ngga ya berangkat haji, soalnya sudah nabung sedikit-sedikit dan lama.
Kini, penantian panjang itu segera berakhir. Painah dijadwalkan berangkat dalam Kloter 22 pada Jumat (15/5/2026) malam.
Persiapan dan Harapan
Menjelang keberangkatan, ia mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Menurutnya, aktivitas berjalan kaki ke pasar dan bekerja setiap hari selama ini sudah menjadi latihan fisik tersendiri. Olahraga biasa, ke pasar jalan terus sudah biasa.
Rumah Painah berada cukup jauh dari jalan raya. Letaknya berada di bawah permukiman warga dengan akses berupa jalan setapak dan tangga yang cukup curam. Setiap kali berangkat jualan, ia harus berjalan kaki sambil menggendong daun pisang dalam jumlah banyak untuk dibawa menuju pasar dan pelanggan.
Rutinitas itu sudah dijalani bertahun-tahun tanpa pernah dikeluhkan. Bahkan saat usia tak lagi muda, Painah tetap memanggul daun pisang berkilo-kilo dari rumah menuju jalan utama sebelum melanjutkan perjalanan ke pasar pagi.
Bagi Painah, perjalanan haji bukan tentang besarnya penghasilan seseorang. Dari hasil memetik dan menjual daun pisang setiap hari, ia membuktikan bahwa harapan bisa diwujudkan lewat kerja keras, kesabaran, dan kebiasaan menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.