Kehidupan Seorang Ibu Berusia 65 Tahun yang Berhasil Mewujudkan Impiannya untuk Berhaji
Di usia 65 tahun, Painah tidak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya memetik daun pisang setiap hari akan membawanya sampai ke Tanah Suci. Warga RT 03 RW 13 Dusun Ngedok, Kelurahan Wonosobo Barat itu mengaku hanya menjalani hidup seperti biasa, yaitu bekerja, menabung sedikit demi sedikit, lalu bersyukur atas apa yang dimiliki.
Puluhan tahun terakhir, kesehariannya dihabiskan sebagai buruh pemetik daun pisang klutuk. Daun itu kemudian dijual ke pasar pagi, warung-warung, hingga pelanggan di kawasan Sumberan dan Kampung Puntuk. “Setiap hari metik daun nggak pernah telat,” kata Painah menggunakan bahasa Jawa keseharian saat ditemui di rumahnya, Senin (11/5/2026).
Rutinitasnya dimulai saat sebagian besar orang masih terlelap tidur. Sekitar pukul 01.30 WIB, ia sudah bersiap berangkat mengambil daun pisang dari kebun sebelum dibawa ke pasar pagi. Menurut Painah, daun pisang yang paling banyak dicari pembeli adalah jenis klutuk. Sementara jenis daun lain biasanya kurang diminati sehingga lebih sulit dijual.
Selama bertahun-tahun, Painah mengambil daun dari kebun milik orang lain. Bahkan sebelumnya ia sempat membeli daun untuk dijual kembali demi mendapatkan keuntungan kecil dari hasil berdagang. Namun dalam empat tahun terakhir, keadaan mulai berubah. Setelah bertahun-tahun bekerja, Painah akhirnya memiliki lahan sendiri untuk ditanami pohon pisang.
“Sekarang sudah ambil di lahan sendiri,” ujarnya. Daun-daun yang sudah dipetik kemudian dibersihkan dan dirapikan terlebih dahulu sebelum ditimbang. Biasanya pekerjaan itu dilakukan malam atau dini hari agar pagi harinya daun siap dibawa ke pasar.
"Saya berangkat dari rumah jam setengah dua pagi, jualan di pasar pagi sampai subuh. Biasanya kalau siang saya antar ke pelanggan," ungkapnya. Selain berjualan di pasar pagi, Painah juga mengantar langsung pesanan pelanggan ke sejumlah tempat. Ia biasa membawa daun ke kawasan Sumberan, Kampung Puntuk, hingga warung-warung kecil langganannya.
Jumlah pesanan pun tidak selalu banyak. Kadang hanya dua kilogram, tiga kilogram, atau lima kilogram untuk setiap pelanggan. Harga jual daun pisang juga berbeda tergantung kualitasnya. Untuk daun kualitas bagus dijual Rp5 ribu per kilogram. Sedangkan kualitas sedang dijual Rp3 ribu dan kualitas rendah sekitar Rp2 ribu per kilogram.
Meski harga kebutuhan sehari-hari terus naik, Painah mengaku tidak pernah menaikkan harga jual daun secara berlebihan. Baginya, menjaga hubungan baik dengan pelanggan jauh lebih penting dibanding mengambil keuntungan besar.
“Saya ngga pernah naikin harga daun walaupun yang lain pada naik,” katanya. Penghasilan dari berjualan daun sebenarnya tidak menentu. Dalam sehari, ia kadang hanya membawa pulang Rp10 ribu hingga Rp30 ribu. Jika sedang ramai pesanan kampung, pendapatannya bisa sedikit lebih banyak.
Meski demikian, dari penghasilan kecil itulah Painah mulai menabung untuk bisa berangkat haji. Ia mendaftar haji sekitar tahun 2012 bersama sang suami. Namun di tengah proses menunggu keberangkatan, suaminya dinyatakan tidak lolos pemeriksaan kesehatan sehingga porsi keberangkatan kemudian digantikan oleh anaknya.
"Iya masa tunggunya 14 tahun, Alhamdulillah tahun ini bisa berangkat," ucapnya. Painah mengatakan tabungan hajinya dikumpulkan sendiri secara perlahan dari hasil jualan daun pisang. Tidak ada nominal khusus yang harus disisihkan setiap hari.
Kadang ia hanya bisa menyimpan Rp15 ribu. Di waktu lain bisa Rp50 ribu hingga Rp100 ribu jika dagangan sedang ramai. “Nabungnya ngumpulin sendiri di rumah,” ucapnya. Uang hasil jualan itu tidak sepenuhnya bisa ditabung. Sebab, Painah tetap harus memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti membayar listrik, kebutuhan rumah tangga, hingga menghadiri kegiatan sosial di kampung.
"Ya karena di kampung kan kadang ada orang meninggal, tilik (nengokin) orang sakit. Nah sisanya baru ditabung. Ya sedikit-sedikit lah,” jelasnya. Jika tabungan di rumah sudah mencapai sekitar Rp10 juta, Painah baru menyetorkannya ke bank. Cara itu dilakukan berulang kali selama bertahun-tahun hingga akhirnya namanya masuk daftar keberangkatan haji tahun ini.
Di balik penantian panjang tersebut, Painah mengaku sempat dihantui rasa khawatir. Usianya yang terus bertambah membuatnya takut tidak sempat berangkat ke Tanah Suci.
“Sempat mikir nemuin ngga ya berangkat haji, soalnya sudah nabung sedikit-sedikit dan lama,” ujarnya pelan. Kini, penantian panjang itu segera berakhir. Painah dijadwalkan berangkat dalam Kloter 22 pada Jumat (15/5/2026) malam.
Menjelang keberangkatan, ia mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Menurutnya, aktivitas berjalan kaki ke pasar dan bekerja setiap hari selama ini sudah menjadi latihan fisik tersendiri.
“Olahraga biasa, ke pasar jalan terus sudah biasa,” katanya sambil tersenyum. Rumah Painah berada cukup jauh dari jalan raya. Letaknya berada di bawah permukiman warga dengan akses berupa jalan setapak dan tangga yang cukup curam. Setiap kali berangkat jualan, ia harus berjalan kaki sambil menggendong daun pisang dalam jumlah banyak untuk dibawa menuju pasar dan pelanggan.
Rutinitas itu sudah dijalani bertahun-tahun tanpa pernah dikeluhkan. Bahkan saat usia tak lagi muda, Painah tetap memanggul daun pisang berkilo-kilo dari rumah menuju jalan utama sebelum melanjutkan perjalanan ke pasar pagi. Bagi Painah, perjalanan haji bukan tentang besarnya penghasilan seseorang. Dari hasil memetik dan menjual daun pisang setiap hari, ia membuktikan bahwa harapan bisa diwujudkan lewat kerja keras, kesabaran, dan kebiasaan menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.